2. Ilmuwan Islam dalam Bidang Bahasa dan Sastra
Abu Nawas
Abu Nawas atau Abu
Nuwas adalah seorang penyair Islam terkenal di era kejayaan
Islam. Orang Indonesia begitu akrab dengan sosok Abu
Nawas melalui cerita-cerita humor bijak dan sufi. Sejatinya,
penyair yang bernama lengkap Abu Nuwas al-Hasan bin Hini al-Hakami itu memang
seorang humoris yang lihai dan cerdik dalam mengemas kritik berbungkus humor.
Diperkirakan, Abu Nawas terlahir antara tahun 747 hingga 762 M.
Ada yang menyebut, tanah kelahirannya di Damaskus, ada pula yang meyakini Abu
Nawas berasal dari Bursa. Versi lainnya menyebutkan dia lahir di Ahwaz. Yang
jelas, Ayahnya bernama Hani seorang anggota tentara Marwan bin Muhammad atau
Marwan I-Khalifah terakhir Dinasti Umayyah di Damaskus.
Sedangkan ibunya bernama Golban
atau Jelleban seorang penenun yang berasal dari Persia. Sejak lahir hingga
tutup usia, Abu Nawas tak pernah bertemu dengan sang ayah. Saat masih kecil,
sang ibu menjualnya kepada seorang penjaga toko dari Yaman yang bernama Sa'ad
al-Yashira.
Abu Nuwas muda bekerja di toko grosir milik tuannya di Basra,
Irak. Sejak remaja, otak Abu Nawas yang encer menarik perhatian Walibah ibnu
al-Hubab, seorang penulis puisi berambut pirang. Al-Hubab pun memutuskan untuk
membeli dan membebaskan Abu Nawas dari tuannya.
Sejak itu, Abu Nuwas pun terbebas dari statusnya sebagai budak
belian. Al-Hubab pun mengajarinya teologi dan tata bahasa. Abu Nuwas juga
diajari menulis puisi. Sejak itulah, Abu Nawas begitu tertarik dengan dunia
sastra. Ia kemudian banyak menimba ilmu dari seorang penyair Arab bernama
Khalaf al-Ahmar di Kufah.
Setelah itu, dia hijrah ke Baghdad yang merupakan metropolis
intelektual abad pertengahan di era kepemimpinan Khalifah Harun ar-Rasyid.
Karier Abu Nawas di dunia sastra mulai mencuat setelah kepandaiannya menulis
puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui perantara musikus istana,
Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas akhirnya diangkat menjadi penyair istana (sya'irul
bilad). Abu Nawas pun diangkat sebagai pendekar para penyair. Tugasnya
menggubah puisi puji-pujian untuk khalifah.
Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi
membuatnya menjadi seorang legenda. Namanya juga tercantum dalam dongeng 1001
malam. Meski penuh dengan humor, ia adalah sosok yang jujur. Tak heran, bila
dia disejajarkan dengan tokoh-tokoh penting dalam khazanah keilmuan Islam.
Kedekatannya dengan khalifah membuatnya berakhir di penjara. Suatu ketika, Abu
Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang membuat khalifah tersinggung dan
murka.
Sejak mendekam di penjara, puisi-puisi Abu Nawas berubah menjadi
religius. Kepongahan dan aroma kendi tuaknya meluntur, seiring dengan
kepasrahannya kepada kekuasaan Allah. Syair-syairnya tentang pertobatan bisa
dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa keagamaannya yang tinggi.
Sajak-sajak tobatnya bisa ditafsirkan sebagai jalan panjang
menuju Tuhan. Puisi serta syair yang diciptakannya menggambarkan perjalanan
spiritualnya mencari hakikat Allah. Kehidupan rohaniahnya terbilang berliku dan
mengharukan.
Setelah 'menemukan' Allah, inspirasi puisinya bukan lagi khamar,
melainkan nilai-nilai ketuhanan. Di akhir hayatnya, ia menjalani hidup zuhud.
Seperti tahun kelahirannya yang tak jelas, tahun kematiannya terdapat beragam
versi antara 806 M hingga 814 M. Ia dimakamkan di Syunizi, jantung Kota
Baghdad. Abu Nawas adalah salah seorang sastrawan Arab terbesar didalam sejarah
Islam.
Sumber : Mengenal Abu
Nawas | Republika Online
Komentar
Posting Komentar