Postingan

Tadarus Multi Disiplin “Integrasi Islam dan Sains: Menyelami Doktrin Al-Quran dan Meneladani Tradisi Keilmuan Barat” dengan Narasumber : Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A

Integrasi : menjadi satu bagian yang utuh antara ilmu yang satu dengan sains. Islam yang Kosmopolitan, yaitu yang berprogres unggul.  Tujuan dari integrasi Islam dan sains yaitu mengembalikan kejayaan islam seperti pada masa lalu. Kunci Riset dan Inovasi 1. Kejujuran ( boleh salah tetapi tidak boleh berbohong) 2. Keberanian (seperti dituduh Bid'ah) 3. Curiosity (rasa ingin tahu yang tinggi) 4. Belajar terus (dari buaian hingga masuk ke liang lahat) 5. Teologi (riset dan inovasi sebagai amal jariyah kelak) Perbedaan Maal, Mulk & ‘Ilm 1.  Incentive - Minded scholars   (Harta/Maal) 2.  Career - Minded scholars   (Kedudukan/Mulk) 3.  Science - Minded Scholars  (Ilmu/'Ilm) Ketika hanya memilih  harta:  maka yang kita dapat hanya  harta Ketika hanya memilih  kedudukan:  maka yang kita dapat hanya  kedudukan Ketika memilih  ilmu:  maka kita akan mendapat  harta maupun kedudukan

6. Etika Islamisasi

  A. Pengertian  Menurut Sayed Husein Nasr, Islamisasi ilmu termasuk Islamisasi budaya adalah upaya menerjemahkan pengetahuan modern ke dalam bahasa yang dipahami masyarakat Muslim yang dimana mereka tinggal. Artinya Islamisasi ilmu lebih merupakan usaha untuk mempertemukan cara pikir san bertindak (epistemologis dan aksiologis) masyarakat Muslim dalam kaitannya dengan perkembangan dunia. Menurut Hanna Djumhana Bastaman, Islamisasi ilmu adalah upaya menghubungkan kembali ilmu pengetahuan dengan agama, yang berarti menghubungkan kembali hukum alam, dengan Al Qur'an. Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Islamisasi ilmu adalah upaya membangun kembali paradigma keilmuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam. B. Sejarah Pertama kali dilakukan pada zaman Sayed Husein Nasr dalam beberapa karyanya pada tahun 1960-an. Lalu pada tahun 1977 diresmikan sebagai proyek Islamisasi ilmu oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Menurutnya, Islamisasi ilmu tidak bisa dilakukan hanya...

5. Kedudukan Orang Berilmu dalam Al-Qur'an

  Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan seorang hamba menuju Tuhannya. Hukum menuntut ilmu adalah fardhu ain yaitu wajib bagi setiap umat muslim. Ilmu dan amal adalah tujuan Allah swt. dalam penciptaan makhluk. Dan sebuah ibadah haruslah dikerjakan atas dasar ilmu yang bermanfaat, yang mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya.  Dan sebuah ibadah haruslah dikerjakan atas dasar ilmu yang bermanfaat, yang mendekatkan seorang hamba kepada Rābb-nya. Barangsiapa yang berilmu kemudian mengamalkan ilmunya, berarti dia telah mewujudkan tujuan penciptaan dirinya dimurkai karena tidak beramal dan sesat karena tidak berilmu. Di dalam ayat terakhir surat Al Fatihah tersebut, Allāh Ta’ala menyebutkan 3 golongan : · Golongan yang diberikan nikmat, mereka inilah orang-orang yang berilmu kemudian mengamalkannya · Golongan yang dimurkai, mereka adalah yahudi, berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya · Golongan yang sesat, mereka adalah nasrani, beramal tanpa dasar ilmu Kemukjizatan al-Quran ...

4. Misi Profetik Ilmu

 Profetik : Kenabian atau sifat seperti Nabi. Ciri-ciri kenabian : pelopor perubahan, pembimbing masyarakat. Misi Profetik Ilmu : upaya pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya mengubah suatu hal demi perubahan dan kemajuan semata. 3 pilar untuk menjalankan misi profetik ilmu 1. Humanisasi (amar ma'ruf) Segala aktivitas pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diorientasikan untuk misi memanusiakan manusia . 2. Liberasi (nahi munkar) Segala aktivitas pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diorientasikan untuk misi pembebasan . 3. Transendensi ( tu'minu na billah) Segala aktivitas pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diorientasikan untuk menjadikan manusia mengenal dan dekat dengan Allah swt.. Misi profetik ilmu sebagai agama rahmatan lil 'alamin Misi utama Islam : "Kami tidak mengutus Engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." Tujuan diturunkannya Islam : 1. Hifdzum nafs (jiwa) 2. Hifdzum '...

3. Metodolgi Ilmu

  1.        Epistemology Bayani   Bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang menekankan otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung, dan dijustifikasi oleh akal kebahasaan yang digali langsung lewat inferensi (istidlal).   A.       Perkembangan Bayani Istilah bayani berasal dari bahasa Arab bayaan yang artinya penjelasan. Al Jabiri (1936-2010 M0 menjelaskan beberapa makna yang diberikan kamus Lisaan al-Arab karya Ibnu Mandzur (1233-1312 M) yang memberikan arti bayaan sebagai al-fashl wa infishal (memisahkan dan terpisah) dan al-dhuhur wa al-idhhar (jelas dan penjelasan).   Sementara itu, secara terminology, bayaan mempunyai 2 arti, yaitu sebagai aturan-aturan penafsiran wacana dan syarat-syarat   memproduksi wacana.   Sampai disini, bayani telah berkembang jauh. Ia tidak lagi sebagai sekadar penjelas atas kata-kata sulit dalam Al-Qur’an, tetapi telah berubah menjadi se...

2. Ilmuwan Islam dalam Bidang Bahasa dan Sastra

 Abu Nawas  Abu Nawas atau  Abu Nuwas  adalah seorang penyair Islam terkenal di era kejayaan Islam. Orang Indonesia begitu akrab dengan sosok  Abu Nawas  melalui cerita-cerita humor bijak dan sufi. Sejatinya, penyair yang bernama lengkap Abu Nuwas al-Hasan bin Hini al-Hakami itu memang seorang humoris yang lihai dan cerdik dalam mengemas kritik berbungkus humor. Diperkirakan, Abu Nawas terlahir antara tahun 747 hingga 762 M. Ada yang menyebut, tanah kelahirannya di Damaskus, ada pula yang meyakini Abu Nawas berasal dari Bursa. Versi lainnya menyebutkan dia lahir di Ahwaz. Yang jelas, Ayahnya bernama Hani seorang anggota tentara Marwan bin Muhammad atau Marwan I-Khalifah terakhir Dinasti Umayyah di Damaskus. Sedangkan ibunya bernama Golban atau Jelleban seorang penenun yang berasal dari Persia. Sejak lahir hingga tutup usia, Abu Nawas tak pernah bertemu dengan sang ayah. Saat masih kecil, sang ibu menjualnya kepada seorang penjaga toko dari Yaman yang be...

1. Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Islam

 Resume Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Islam          Al - Attas membagi konsep ilmu pengetahuan menjadi dua, yaitu Illuminasi (Ma'rifat) dan Ilmu Sains. Ilmu dalam Islam memiliki dimensi yang universal, empirik, dan metafisik (ghaib). Ilmu dalam Islam tidak hanya meliputi ilmu-ilmu agama saja melainkan ada ilmu-ilmu lain seperti ilmu fisika, biologi, dan sebagainya.          Dalil yang menjelaskan tentang Konsep Ilmu Pengetahuan yaitu Q.S. Al-'Alaq (96) : 1-5 yang menjelaskan tentang manusia unggul dikarenakan memiliki akal dan pikiran dibandingkan dengan makhluk lainnya. Episteme Ilmu dalam Islam berlandaskan Tauhid          Ilmu pengetahuan tetap diposisikan secara netral. Agama dan ilmu dipisahkan dan Tuhan dijauhkan di urusan pengembangan ilmu pengetahuan. Reorientas Epistemologi Islam berdasarkan Tauhid 1. Doktrin Al-Qur'an          - Perintah untuk berpikir      ...