3. Metodolgi Ilmu

 

1.       Epistemology Bayani

 

Bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang menekankan otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung, dan dijustifikasi oleh akal kebahasaan yang digali langsung lewat inferensi (istidlal).

 

A.      Perkembangan Bayani

Istilah bayani berasal dari bahasa Arab bayaan yang artinya penjelasan. Al Jabiri (1936-2010 M0 menjelaskan beberapa makna yang diberikan kamus Lisaan al-Arab karya Ibnu Mandzur (1233-1312 M) yang memberikan arti bayaan sebagai al-fashl wa infishal (memisahkan dan terpisah) dan al-dhuhur wa al-idhhar (jelas dan penjelasan).

 

Sementara itu, secara terminology, bayaan mempunyai 2 arti, yaitu sebagai aturan-aturan penafsiran wacana dan syarat-syarat  memproduksi wacana.

 

Sampai disini, bayani telah berkembang jauh. Ia tidak lagi sebagai sekadar penjelas atas kata-kata sulit dalam Al-Qur’an, tetapi telah berubah menjadi sebuah metodebagaimana memahami sebuah teks, membuat kesimpulan atas keputusan atasnya, kemudian memberikan uraian secara sistematis atas pemahaman tersebut kepada pendengar, bahkan telah ditarik sebagai alat untuk memenangkan perdebatan.

 

Paduan antara metode fiqih yang eksplanatoris dan teologi yang dialektik dalam rangka membangun epistemology bayani baru ini sangat penting, karena menurutnya apa yang perlu penjelasan tidak hanya teks suci tetapi juga mencakup 4 hal, yaitu wujud materi yang mengandung aksiden dan substansi, rahasia hati yang memberikan keputusan, teks suci dan ucapan yang mengandung banyak dimensi, teks-teks yang metupakan representasi pemikiran dan konsep.

 

B. Sumber pengetahuan

 

Pada kodifikasi hadits, para ilmuwan begitu ketat dalam menyeleksi sebuah teks yang diterima. AL Bukhari misalnya, menggariskan syarat yang tegas bagi diterimanya sebuah teks hadits : bahwa periwayat harus memenuhi tingkat kriteria yang paling tinggi dalam hal watak pribadi, keilmuan, dan standar akademis, harus ada informasi positif tentang para periwayat yang menerangkan bahwa mereka saling bertemu muka.

 

Selanjutnya tentang nash Al Qur’an, meski sebagai sumber utama, ia tidak selalu memberikan ketentuan pasti. Dari segi penunjukan hukumnya, nash AL-Qur’an dibagi menjadi 2 yaitu qath’I dan zhanni. Qath’i adalah nash yang menunjukkan adanya makna yang dapat dipahami dengan pemahaman tertentu. Sedangkan zhanni adalah nash yang menunjukkan atas makna tapi masih memungkinkan adanya takwil atau diubah dari makna asalnya menjadi makna yang lain.

 

 

2.       Epistemologi Irfani (Intuisi)

Dikembangkan dan digunakan dalam masyarakat sufi, berbeda dengan epistemology burhani yang dikembangan oleh para silosof dan epistemology bayani yang dikembangkan oleh para ilmuan-ilmuan.

 

Istilah irfan berasal dari bahasa arab yang berarti pengetahun, tetapi berbeda dengan ilmu. Irfan berkaitan dengan pengetauan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan lewat ruhani yang dilakukan atas dasar cinta atau kemauan yang kuat.

 

a.       Irfan, Etika, dan Filsafat

Menurut Muthahhari, irfab terdiri dari 2 aspek : praktis dan teoritis. Aspek praktis adalah bagian yang mendiskusikan hubungan antara manusia dengan alam dan hubungan manusia dan Tuhannya.  Sementara aspek teoritis mendiskusikan hakikat semesta, manusia dan Tuhan, sehingga irfan teoritis mempunyai kesamaan dengan filsafat yang juga mendiskusikan tentang hakikat semesta.

 

Perbandingan antara Irfan, Etika, dan Filsafat

Etika membahas antara manusia saja

Irfan membahas hubungan antar manusia dan Tuhan

Filsafat berpijak pada postulatpostulat

 

Etika unsur spiritualnya sangat terbatas

Irfan unsur spiritualnya sangat luas

Filsafat capaian tertinggi manusia adalah memahami alam semesta

 

 

b.      Perkembangan Irfan

Dibagi dalam 5 fase, pertama pembibitan terjadi pada abad pertama hijriyah. Kedua fase kelahiran terjadi pada abad kedua hijriyah.  Ketiga fase pertumbuhan terjadi abad 3-4 hijriyah. Keempat fase puncak terjadi pada abad 5 hijriyah. Kelima fase spesifikasi terjadi abad 6 dan 7 hijriyah.

 

 

c.       Sumber pengetahuan

Pengetahuan irfan tidak didasarkan atas teks seperti bayani, juga tidak atas kekuatan rasional seperti burhani, tetapi pada kasyf, tersingkapnya rahasia realitas oleh Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Kedudukan Orang Berilmu dalam Al-Qur'an

2. Ilmuwan Islam dalam Bidang Bahasa dan Sastra

1. Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Islam